NILAI PENTING BUDAYA ORGANISASI
DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS
Organisasi merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dengan kehidupan dan penghidupan manusia. Setiap hari manusia
selalu berhubungan dengan organisasinya walaupun pengalaman dalam berorganisasi
itu ada yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, namun manusia tetap saja
memerlukan organisasi. Salah satu unsur yang sangat penting dalam organisasi
adalah budaya (culture) organisasi
kenapa unsur ini juga menjadi bagian penting karena dengan adanya budaya dalam
sebuah organisasi maka gerak langkah dan kehidupan dalam berorganisasi
diperlukan sebuah pondasi atau dasar yang akan dijalankan bersama seluruh
anggota organisasi, maka dalam tulisan ini akan dibahas makna atau nilai
penting budaya organisasi dalam peningkatan produktivitas kerja.
A. BUDAYA
Konsep budaya berasal dari konsep culture. Culture berasal dari bahasa Latin, colere yang artinya segala daya dan upaya manusia unuk mengubah
alam. Pendalaman makna konsep ini memuat
beberapa dimensi budaya (culture). Usman
(2013:212) mengutip pendapat beberapa ahli yang menyatakan hal itu.
a. Kotter & Heskett (1992) berpendapat
bahwa budaya sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan,
dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang menjadi ciri suatu
masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama.
b. Schein (1992) mendefinisikan budaya
sebagai pola pemecahan masalah eksternal dan internal yang diterapkan secara
konsisten bagi suatu kelompok.
Kroeber dan Kluchorn dalam Soetopo
(2010:123) menyatakan bahwa budaya mengandung pola eksplisit maupun implisit
dari dan untuk perilaku yang dibutuhkan dan diwujudkan hasil kelompok manusia
secara berbeda termasuk benda-benda ciptaan manusia. Inti utama dari budaya
terdiri dari ide tradisional (terus menurun dan terseleksi) dan tertanam pada
nilai-nilai yang menyertainya.
B. ORGANISASI
Manusia adalah makhluk sosial.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat dipisahkan dari organisasi karena
sejak dilahirkan manusia selalu membutuhkan bantuan orang lain. Organisasi
dibentuk untuk kepentingan manusia (antroposentris), karena pada dasarnya
organisasi diciptakan untuk manusia, bukan manusia untuk organisasi.
Ouchi dalam Usman (1981) menyatakan
bahwa keunikan suatu organisasi dipengaruhi berbagai hal antara lain norma yang
dianut anggotanya, kepercayaan kebiasaan yang berlaku didalam organisasi, dan
filosofi organisasi yang dianut. Kegiatan apapun yang ada didalam suatu
organisasi, manusialah yang mengoperasikan atau yang menjalankan sebuah
organisasi, bukan organisasi yang menjalankan orang-orang di dalam organisasi
tersebut.
Organisasi merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia. Namun, didalam berorganisasi
manusia pengalaman-pengalaman yang positif dan negatif, akan tetapi mereka
tetap saja memerlukan organisasi. Adanya pertentangan semacam itu adalah
sebagai konsekuensi bahwa manusia pada hakikatnya tidak sama atau penuh dengan
perbedaan. perbedaan ini biasanya terjadi karena latar belakang pendidikan,
pengalaman, status sosial ekonomi, usia, budaya, dan sebagainya.
Organisasi bukan hanya kumpulan
individu, akan tetapi tidak ada organisasi tanpa kumpulan individu. Soetopo
(2010:6) menyebutkan cara pandang yang berbeda mengenai organisasi:.
(1) Organisasi sebagai suatu pemerintahan (polis),
(2) Organisasi sebagai agen atau lembaga, dan
(3) Organisasi sebagai sistem tugas.
Masing-masing dari perspektif atau
cara pandang itu memilahkan pandangannya bahwa organisasi dapat dikatakan “bertindak”.
Selanjutnya organisasi adalah (1) suatu teori tindakan, (2) suatu badan usaha
kognitif yang dilakukan oleh para anggota secara individual, dan (3) suatu
perkakas kognitif yang menyusun “image”
individual dan peta umum.
Masing-masing deskripsi ini akan
menunjukkan pemahaman organisasi yang dapat dikatakan mengetahui sesuatu, dan
belajar. Kelompok adalah kolektivitas. Kelompok ini memiliki 3 (tiga) kondisi
untuk mendekati diri sebagai organisasi, dimana para anggotanya harus memiliki
prosedur untuk (1) membuat tujuan bersama atas nama kolektivitas, (2)
mendelegasikan otoritas bertindak kepada individu untuk kolektivitas, dan (3)
membentuk kawasan antara kolektivitas atau kawasan dunia. Pada kondisi yang
demikian, para anggota sudah mulai membiasakan diri untuk mengatakan “kami”
tentang kegiatan apapun dalam organisasi.
Pada saat suatu kelompok memiliki
keputusan dan tindakan secara kolektif (Latin: polis) yang merupakan suatu
entitas politis. Individu bertindak dan memutuskan, tetapi mereka melakukan
sesuatu untuk kolektivitas dalam wujud peraturan untuk membuat keputusan,
delegasi, dan keanggotaan. Apabila anggota kolektivitas telah membuat peraturan
semacam ini, maka mereka elah terorganisasi serta melalui proses tersebut,
kelompok ini telah menjadi “organisasi”.
Perspektif kedua mengatakan sebagai
agen atau lembaga, terjadi jika kumpulan orang mulai memutuskan dan bertindak
atas dasar keberlanjutan, sehingga menjadi tindakan kolektif yang terus menerus
terjadi. Pada umumnya, tugas lembaga adalah kompleks yang dibentuk secara
kontinyu. Sistem tugas dalam suatu organisasi, merupakan sebuah pola peranan
yang saling berhubungan satu sama lain yakni sekali dirancang untuk pekerjaan
dan merupakan divisi pekerjaan. Dengan demikian, agensi atau lembaga adalah
sebagai pemecah masalah. Lembaga juga merupakan sebuah strategi pembentukan
tugas yang komplek agar dapat dilaksanakan.
Salah satu cara pandang organisasi
adalah sebagai suatu agen atau lembaga. Pada dasarnya, sebuah organisasi tidak
hanya kumpulan-kumpulan individu yang selanjutnya dapat disebut sebagai
kelompok. Kelompok-kelompok ini saling bekerjasama untuk mencapai tujuan
organisasi secara efektif. Keefektifan organisasi selanjutnya dapat dilihat
dari berbagai sudut. Ada yang meninjau dari segi pencapaian tujuan, sistem
komunikasi yang berhasil, keberhasilan kepemimpinan yang diterapkan, proses
manajemen dalam organisasi, ada yang meninjau dari produktivitas, dan ada yang
meninau dari proses adaptasi yang terjadi dalam organisasi.
Keefektifan adalah ketepatan
sasaran dari suatu proses yang berlangsung untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Ketepatan organisasi juga merupakan ketepatan sasaran
suatu proses yang terjadi pada lembaga formal yang menyelenggarakan suatu kerja
sama dengan komponen-komponen yang saling dikoordinasikan untuk mencapai
tujuan. Seperti yang disebutkan oleh Goodman and Pennings bahwa keefektifan
adalah salah satu konstruksi organisasi yang tergambarkan sangat dalam yang
relevan dengan semua anggota dalam kehidupan organisasi (Soetopo, 2010:52).
Miskel, Fevurly dan Stewart dalam
kaitannya dengan penilaian keefektifan organisasi memberikan sebuah pandangan yang
dikutip oleh Gunn dan Holdaway dalam (Soetopo, 2010:52) menyatakan bahwa:
Perceived
organizational effectiveness is the subjective evaluation of a school’s
productivity, adaptability, and flexibility. ... in summary, effective schools
are perceived to produce products and services in greater quantity, with better
quality; to show flexibility; and to exhibit adaptability to a greater extent
than less effective organization.
Pernyataan Miskel dkk menegaskan
bahwa penilaian keefektifan organisasi menekankan pada tiga komponen utama,
yaitu produktivitas, adaptabilitas, dan fleksibilitas organisasi itu. Untuk itu
ukuran keefektifan organisasi tidak saja didasarkan pada pencapaian tujuan dari
segi produktivitas hasil, tetapi juga pada proses kerjasama, kemampuan
organisasi menyesuaikan dengan situasi lingkungan. Selain itu, komponen manusia
yang menjalankan organisasi juga merupakan faktor yang sangat penting dalam
menentukan kefektifan organisasi. Oleh karena itu, hubungan antara pimpinan
organisasi dan para bawahan dan usaha berbagai pihak sangat menentukan keefektifan
organisasi. Pendekatan multidimensional diperlukan untuk mengukur keefektifan
organisasi. Kreitner dan Kinicki dalam Soetopo (2010:57) menyebutkan empat
pendekatan generik untuk memahami permasalahan dalam mengukur keefektifan
organisasi yakni pencapaian tujuan, tersedianya sumber daya, proses, proses
internal, dan kepuasan anggota.
Lebih lanjut, disebutkan ke empat
pendekatan multidimensial dalam mengukur keefektifan organisasi tersebut harus
memiliki pencapaian tujuan cocok jika tujuan jelas, hasil kesepakatan, batas
waktunya jelas, dan dapat diukur (Cameron dalam Soetopo, 2010:59). Pendekatan
tersedianya sumber daya sesuai jika input mempunyai dampak yang membekas pada
hasil atau output. Pendekatan proses internal cocok jika cocok jika performansi
organisasi sangat dipengaruhi oleh proses spesifik. Proses spesifik yang
dimaksud bisa berupa proses kepemimpinan, proses saling pengaruh antar manusia,
proses komunikasi, proses komunikasi, proses pembuatan keputusan dan
sebagainya. Pendekatan kepuasan bawahan strategis cocok jika pemimpin kuat dan
dapat memberikan dan memenuhi kebutuhan bawahan yang menjadikan anggota puas.
C. BUDAYA
ORGANISASI
Owens (1995:81) menyatakan bahwa kultur
organisasi “refers to the behavioral
norms, assumptions, and beliefs of an organization, whereas climate reers to
perceptions of person in the organization that reflect those norms,
assumptions, and beliefs”. Pendapat Owens ini memberikan penekannya pada
budaya organisasi yang mengacu pada norma perilaku, asumsi, dan keyakinan dari
suatu organisasi, sementara iklim organisasi mengacu pada persepsi orang-orang
dalam organisasi yang merefleksikan norma-norma, asumsi-asumsi dan keyakinan
itu.
Willian Ouchi menyatakan budaya organisasi
sebagai “symbol, ceremonies, and myths
that communicate the underlying values and beliefs of that organization to its
employees” (Hoy & Miskel, 2005:165). Willian Ouchi memberi penekanan
bahwa budaya organisasi sebagai simbol, seremonial, dan mitos yang merupakan
bentuk komunikasi yang mendasari terbentuknya nilai dan keyakinan para karyawan
pada suatu organisasi.
Hoy & Miskel (2005:165) juga
menyimpulkan mengenai budaya organisasi yang merupakan “a system of shared orientations that hold the unit together and give
it a distinctive identity”. Pernyataan
Hoy & Miskel tersebut mengandung maksud bahwa budaya organisasi tersebut
merupakan sebuah sistem yang berorientasi secara bersama-sama dalam memegang
unit dan memberikan identitas yang berbeda.
Beberapa pendapat ahli lain
mengenai budaya organisasi yang dikutip dari Soetopo (2011:122-123),
diantaranya:
a. Greenberg dan Baron (1995)
menekankan budaya organisasi sebagai kerangka kognitif yang berisi sikap,
nilai, norma perilaku, dan ekspektasi yang dimiliki oleh anggota organisasi.
b. Peterson (1984) menyatakan bahwa
budaya organisasi mencakup keyakinan, ideologi, bahasa, ritual, dan mitos.
c. Creemers dan Reynolds (1993)
menyimpulkan bahwa budaya organisasi adalah keseluruhan norma, nilai,
keyakinan, dan asumsi yang dimiliki oleh anggota didalam organisasi.
d. Sonhadji (1991) menyatakan bahwa
budaya organisasi adalah proses sosialisasi anggota organisasi untuk
mengembangkan persepsi, nilai, dan keyakinan terhadap organisasi.
e. Gibson, Ivanichevich, dan Donelly
(1988) mengemukakan bahwa budaya organisasi adalah kepribadian organisasi yang
mempengaruhi cara bertindak individu dalam organisasi.
Soetopo (2010:123) menyimpulkan
dari beberapa pemaparan diatas bahwa budaya organisasi berkenaan dengan
keyakinan, asumsi, nilai, norma-norma perilaku, ideologi, sikap, kebiasaan, dan
harapan-harapan yang dimiliki oleh organisasi (dalam hal ini termasuk organisasi
universitas swasta).
Kotter dan Heskett dalam Soetopo
(2010:134) mengidentifikasikan dua tingkat budaya yakni yang terlihat dan tidak
terlihat. Pada tingkatan yang terlihat, terdapat pola tingkah laku karyawan.
Sedangkan pada tingkatan yang tidak terlihat, terdapat nilai-nilai yang
dimiliki bersama dan asumsi yang sudah dipegang lama. Pada tingkatan yang kedua
ini lebih sulit untuk diubah. Akan tetapi, perubahan pada tingkatan yang
pertama yaitu pada tingkatan yang terlihat, pola tingkah laku dan gaya, dalam
jangka waktu yang lama dapat menyebabkan perubahan dalam keyakinan yang lebih
dalam dipegang. Lebih lanjut, ditemukan juga bahwa ada budaya organisasi yang
baik untuk mengadaptasi perubahan dan melestarikan prestasi organisasi,
dinamakan budaya adaptif. Nilai intinya adalah kebanyakan manajer sangat
memperhatikan pelanggan, pemegang saham, dan karyawan.
Selanjutnya, ahli lain yang
mengajukan kerangka klasifikasi budaya organisasi adalah Hellriegel dan Slocum
dalam Soetopo (2010:134), yang digambarkan sebagai berikut:
Clan
|
Budaya
Enterpreneurial
|
|
|
Budaya
|
Budaya
Pasar
|
|
Mantap
|
|
Internal
|
Sumber:
diadopsi oleh Soetopo (2010:135) dari Hellriegel D. dan Slocum J.W.Jr. (1996). Management. Sevent Edition, South
Western College Publishing, ITP Company, h.538
Gambar. Klasifikasi Budaya Organisasi
Sumbu vertikal mencerminkan
orientasi pengawasan yang relatif formal, jarak dari mantap ke fleksibel. Sumbu
horizontal mencerminkan fokus relatif terhadap perhatian, jarak dari fungsi
eksternal. Sudut-sudut ekstrem dari empat persegi yang mewakili keempat tipe
murni dari budaya organisasi yakni:
1. Budaya birokratik, yakni suatu
organisasi dengan karyawan yang mempunyai formalisasi nilai peraturan standar
prosedur operasi, dan koordinasi hierarkis. Perhatian jangka panjang dalam
birokrasi, efisiensi, dan stablitas dapat diperkirakan. Karyawan mempunyai
standar nilai yang tinggi terhadap barang dan pelayanan pelanggan sedangkan
manajer memandang peran sebagai koordinator, organisator dan memperkuat standar
serta aturan secara tertulis sehingga tugas, tanggung jawab, dan kewenangan
untuk seluruh karyawan telah dirumuskan dengan jelas.
2. Budaya Clan, mempunyai atribut
tradisi, kesetiaan, komitmen pribadi, sosialisasi ekstensif, tim kerja,
manajemen diri, dan pengaruh sosial. Komitmen individual jangka panjang pada
organisasi diganjar dengan komitmen jangka panjang organisasi terhadap
karyawan. Komunikasi, koordinasi, dan integrasi didukung oleh tujuan bersama,
persepsi, dan kecenderungan perilaku.
3. Budaya Enterpreneurial, menunjukkan
tingkat pengambilan risiko yang tinggi, dinamis, dan kreativitas. Ada komitmen
terhadap eksperimentasi serta inovasi. Budaya ini tidak hanya cepat bereaksi
terhadap perubahan lingkungan, tetapi berupaya untuk menciptakan perubahan.
4. Budaya pasar, merupakan nilai yang
akan dicapai dapat terukur, dan karyawan juga dituntut dapat mencapai sasaran,
terutama yang berbasis finansial dan pasar. Hubungan antara karyawan dan
organisasi bersifat kontrak. Kondisi seperti ini orientasi kontrol formalnya
stabil, yakni (1) karyawan bertanggung jawab mencapai beberapa tingkat kinerja,
(2) organisasi menjanjikan tingkat ganjaran (jaminan) sesuai jadwal yang
disetujui, (3) atasan berinteraksi dengan bawahan secara luas berkaitan dengan
persetujuan perundingan antara kinerja dan penghargaan serta dapat mengevaluasi
alokasi sumber daya yang dibutuhkan.
D. TINGKATAN
BUDAYA ORGANISASI
Sumber:
diadopsi oleh Soetopo (2010:133) dari Kotter, John P. and Heskett, James L.
1991. Corporate Culture and Performance.
The Free Press, New York, h.5
Gambar. Budaya
dalam Suatu Organisasi
Gambar
di atas menunjukkan adanya tingkatan dari budaya organisasi. Serupa dengan
gambar di atas, Hoy and Miskel (1995:166) menunjukkan tiga tingkatan budaya
organisasi
|
Deep
|
Culture as tacit assumption
|
Abstract
|
|
|
Culture as shared beliefs and values
|
|
|
Superficial
|
Culture as shared norms
|
Concrete
|
Sumber: Hoy and Miskel (1995:166)
1. Budaya organisasi sebagai bagian dari norma.
Norma merupakan ekspektasi yang ditunjukkan melalui perilaku atau kegiatan
tertentu. Norma dikomunikasikan melalui kegiatan pengarahan, cerita bermakna,
atau ritual tertentu yang menggambarkan apa yang diharapkan oleh organisasi
terhadap orang-orang yang ada didalamnya. Norma mengajarkan kepada orang-orang
yang ada di dalam organisasi untuk “melakukan sesuatu” atau “untuk tidak
melakukan sesuatu”. Norma lebih tampak nyata bagi orang-orang di luar
organisasi.
2. Budaya merupakan bagian dari
keyakinan dan nilai-nilai. Nilai adalah keyakinan mengenai apa yang diharapkan.
Nilai adalah kristalisasi pengalaman orang-orang dalam organisasi tersebut yang
diyakini dapat mengarahkan semua anggota organisasi mencapai keberhasilan.
Nilai yang dinyatakan dalam rumusan, seperti: kerukunan, saling mempercayai,
kerja sama, kerja tim, atau kesetaraan, membentuk identitas organisasi. Berkenaan
dengan nilai-nilai dan keyakinan, tabel di bawah ini menunjukkan Teori “Z”
Organisasi dan Budaya.
|
Karakter Organisasional
|
Nilai Dasar (Core Value)
|
|
Kerja jangka panjang
|
Komitmen organisasional
|
|
Tingkat promosi
|
Orientasi karier
|
|
Pengambilan keputusan
|
Kooperasi dan team work
|
|
Tanggung jawab personal
|
Group dan kesetiaan
|
|
Orientasi menyeluruh
|
Kesetaraan
|
Teori “Z”
di atas menunjukkan bagaimana menemukan nilai dasar mana yang perlu dihidupkan
dalam sebuah organisasi. Struktur tersebut tidak menunjukkan bahwa organisasi
mementikan nilai diri tiap-tiap orang yang ada. Dalam organisasi yang budaya
organisasinya memperhatikan nilai diri seperti itu, nilai-nilai itu dihidupi
oleh tiap-tiap anggotanya dengan sukarela.
3. Budaya merupakan bagian dari
asumsi-asumsi yang tak langsung. Asumsi adalah pengandaian-pengandaian dasar yang
melandasi relasi insani, kodrat manusiawi, kebenaran, realita, dan lingkungannya
(Dyer, 1985 dalam Hoy and Miskel, 1995:169). Asumsi tidak pernah dapat
dinyatakan secara kasat mata. Asumsi hanya dapat “dirasakan” oleh mereka di
dalam organisasi itu sebagaimana tampak dalam cara-cara orang dalam organisasi
itu melakukan atau menyatakan tindakan tertentu. Untuk menemukan asumsi dasar
ini, seseorang harus menjadi bagian dari organisasi itu.
E. KARAKTERISTIK
BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi tidak ada begitu
saja, tetapi harus diciptakan, dipelihara, dan diperkuat, bahkan diubah agar
sesuai dengan tuntutan internal maupun eksternal organisasi. Baron dan
Greenberg dalam Soetopo (2010:130) mengemukakan bahwa isi dari suatu budaya
organisasi terutama berasal dari tiga sumber, yaitu:
1. Pendiri organisasi. Pendiri sering
memiliki kepribadian yang dinamis, nilai yang kuat dan visi yang jelas tentang
bagaimana organisasi seharusnya. Pendiri mempunyai peranan kunci dalam menarik
karyawan. Sikap dan nilai mereka siap diterusan kepada karyawan baru yang
berakibat bahwa pandangan mereka diterima oleh karyawan dalam organisasi, dan
tetap dilakukan sepanjang pendiri berada dalam organisasi tersebut atau bahkan
setelah pendirinya meninggalkan organisasi
2. Pengalaman organisasi menghadapi
lingkungan eksternal. Penghargaan organisasi terhadap tindakan tertentu,
kebijakan, produknya, mengarah pada pengembangan berbagai sikap dan nilai.
3. Hubungan kerja karyawan membawa
harapan, nilai, sikap mereka kedalam organisasi. Hubungan kerja mencerminkan
aktivitas utama organisasi yang membentuk sikap dan nilai.
Budaya mengimplikasikan adanya
dimensi atau karakteristik tertentu. O’Relly and Jehn dalam Hoy & Miskel
(2005:171) mengemukakan 7 (tujuh) karakteristik budaya organisasi:
(1) Innovation,tingkatan pekerja didorong untuk
lebih inovatif dan berani untuk mengambil resiko;
(2) Stability,
tingkatan aktivitas organisasi
tersebut menekankan pada pemeliharaan status quo sebagai kontras dari
pertumbuhan;
(3) Attention
to detail,kadar
para pekerja diharapkan dapat menunjukkan presisi, analisis, dan perhatian pada
hal-hal detail;
(4) Outcome
orientation,mengacu
pada pimpinan yang berfokus pada hasil bukan pada teknis dari proses yang
dipakai untuk menjadi hasil;
(5) People
orientations,
tingkatan sebuah keputusan dalam manajemen lebih memperhitungkan kepekaannya
yang bersifat individual;
(6) Team
orientation,
sebuah tingkatan yang menekankan pada kegiatan kerjasama dan atas dasar tim
kerja; dan
(7) Aggressiveness, tingkatan dimana para pekerja diharapkan
menjadi lebih kompetitif bukan dengan santai-santai.
|
Efektivitas
Individu
|
|
Efektivitas
Group
|
|
Efektivitas Organisasi
|
|
Stabilitas
|
|
5. orientasi pada tim
6. agresivitas
|
|
3. Orientasi
pada hasil
4. Orientasi
pada orang
|
|
1. Inovasi
dan Resiko
2. Perhatian
dan perincian
|
Sumber:
diadopsi oleh Soetopo (2010:135) dari O’Reilly, Charles and Chatman, J. (1986).
Organizational Commitment and
Psychological Attachment: The Effects of Compliance, Identification and
Internalization on Prosocial Behavior, Journal of Applied Psychology. Vol
71
Gambar. Model Karakteristik Budaya
Organisasi
Gambar di atas menunjukkan apa yang
harus dilakukan untuk mempertahankan stabilitas budaya organisasi. Stabilitas
itu adalah hasil tiga rangkaian efektivitas yang saling berurutan yang diawali
dengan memperhatikan individu yang ada dalam organisasi itu.
F.
FAKTOR-FAKTOR PENGUAT BUDAYA
ORGANISASI
Deal dan Kennedy dalam Soetopo
(2010:137) yang telah disadur oleh Saffold mengatakan bahwa antara budaya kuat
dan lemah, mempunyai kekuatan dalam mempengaruhi perilaku organisasi. Tetapi,
dalam budaya yang kuat “setap karyawan mengetahui tujuan organisasi, dan mereka
bekerja untuk organisasi tersebut”.
Pada umumnya, budaya yang kental
dalam organisasi cenderung sulit untuk menerima perubahan, karena sistem nilai
yang tumbuh dan dianut telah mengakar kuat dalam sanubari setiap atau mayoritas
karyawan sehingga sulit untuk diubah begitu saja, sebaliknya budaya yang tidak
terlalu kuat kadangkala menguntungkan organisasi terutama pada saat organisasi
berada pada lingkungan yang tidak stabil dan menuntut adanya fleksibilitas yang
tinggi. Selanjutnya, Lorch dalam Soetopo (2010:137) mengatakan bahwa:
a. Budaya yang kuat cenderung
menghambat perubahan, melihat kebutuhan untuk berubah dengan kuatnya
nilai-nilai lama yang dipertahankan dan dianggap sudah baik.
b. Walaupun pimpinan menyadari
pentingnya perubahan, tanggapan yang diberikan masih berkisar pada sistem nilai
yang lama itu juga sehingga perubahan itu tidak benar-benar nyata.
Berkaitan dengan pendapat ahli
diatas, Sathe dalam Soetopo (2010:138) juga mengidentifikasi untuk mengetahui
kekuatan suatu budaya organsiasi dapat dilihat melalui tiga ciri, yaitu:
a. Kekentalan budaya (thickness of
culture) yang diukur melalui jumlah asumsi bersama, karena pada dasarnya budaya
kental mempunyai banyak asumsi sedangkan budaya encer memiliki sedikit asumsi.
b. Tingkat kebersamaan (extent of
sharing) dimana lapisan demi lapisan keyakinan yang dianut secara bersama.
c. Kejelasan peraturan (clarity of
ordering), dua faktor yang mempengaruhi kekuatan budaya adalah jumlah karyawan
dan penyebaran wilayah geografis.
G. TRIK
/ LANGKAH-LANGKAH UNTUK MEMBANGUN BUDAYA ORGANISASI
1.
Menciptakan
dan Mempertahankan Budaya
Budaya
Organisasi yang kuat memberikan kepada karyawan sebuah pemahaman yang jelas
tentang “cara menyelesaikan urusan disekitar sini”. Budaya memberikan
stabilitas pada organisasi. Setiap organisasi mempunyai budaya , dan tergantung
pada kekuatannya, budaya dapat mempunyai pengaruh yang bermakna pada sikap dan
perilaku anggota-anggota organisasi. Sebuah gagasan memandang organisasi budaya
dimana ada sistem, makna yang dianut bersama oleh para anggota merupakan sebuah
fenomena yang relatif baru. Asal- usul budaya sebagai variabel independen yang mempengaruhi sikap dan perilaku karyawan dapat ditelusuri
kembali hampir 50 tahun yang lalu.
Kebiasaan
dan cara umum organisasi melakukan segala sesuatu pada sekarang ini sebagian
besar dipengaruhi oleh apa yang telah dilakukan sebelumnya dan tingkat keberhasilaan
telah diperoleh melalui usaha keras hal inilah yang membimbing kita kepada
sumber yang paling akhir dari budaya organisasi yaitu pendirinya. Para pendiri
biasanya mempaunyai dampak besar pada budaya awal organisasi mereka mempunyai
visi mengenai bagaimana seharusnya organisasi itu. mereka tidak dikendalikan
oleh kebiasaan atau ideologi sebelumnya. Ukuran kecil yang lazim mencirikan
organisasi baru mempermudah pemaksaan pendiri akan visinya pada semua anggota
organisasi.
Robbins
(2007:729) menjelaskan bahwa dalam proses penciptaan budaya terjadi dalam tiga
cara yakni, (1) para pendiri hanya memperkerjakan dan mempertahankan karyawan
yang berpikir dan merasakan cara yang mereka tempuh. (2) mereka
mengindoktrinasikan dan mensosialisasikan para karyawan ini dengan cara
berpikir dan cara berperasaan mereka. (3) perilaku pendiri itu sendiri sebagai
model peran yang mendorong karyawan mengidentifikasikan diri dengan mereka dan
oleh karenanya menginternalisasikan keyakinan, nilai, dan asumsi-asumsi mereka.
Terkait
dengan pernyataan diatas bila sebuah
organisasi berhasil maka visi pendiri menjadi terlihat sebagai penentu utama
keberhasilan sebuah organisasi. Pada titik ini, keseluruhan kepribadian pendiri
menjadi tertanam ke dalam budaya organisasi. Dalam hal ini peranan seorang
pendiri dalam menciptakan sebuah budaya organisasi sangtlah menjadi fudamental
dalam sebuah proses penciptaan sebuah budaya dalam organisasi.
2.
Menjaga
Budaya agar tetap Hidup
Setelah
sebuah budaya terbentuk dalam sebuah organisasi, maka hal selanjutnya adalah
praktik-praktik di dalam organisasi bertindak mempertahankannya dengan
memberikan kepada karyawan seperangkat pengalaman yang serupa.
Menurut
Robbins (2007: 730) menyatakan bahwa ada 3 kekuatan memainkan bagian sangat
penting dalam mempertahankan budaya yaitu: (1) seleksi memainkan bagian sangat
penting dalam mempertahankan budaya, (2) manajemen puncak, (3) metode
sosialisasi.
Terkait
dengan pernyataan Robbins diatas baiklah kita akan meninjau bersama makna dari
tiap-tiap kekuatan yang menjadikan sebuah kekuatan utuk menjaga budaya agar
tetap hidup dalam sebuah organisasi.
a. Seleksi
Tujuan eksplisit dari
proses seleksi adalah mengidentifikasi dan memperkerjakan individu-individu
yang mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan melakukan pekerjaan pekerjaan dengan sukses di dalam organisasi
itu. Untuk itu diperlukan sebuah upaya untuk memastikan suatu kecocokan yang
tepat, sengaja atau tidak, akan menghasilkan pekerja yang pada hakikatnya
mempunyai nilai yang konsisten dengan nilai-nilai itu. Proses seleksi ini
memberikan informasi kepada para pelamar mengenai organisasi itu sendiri. Dalam
proses seleksi ini diharapkan para calon pelamar belajar mengenai organisasi
sehingga kelak mereka dapat belajar nilai dan jika mereka merasakan konflik
kelak kemudian hari. Seleksi juag merupakan jalan dua arah, memungkinkan
pemberi kerja atau pelamar memutuskan untuk mengadakan perjanjian kerja. Utuk
itu proses seleksi menjadi penting dan mendukung budaya organisasi karena
dengan menyeleksi keluar individu-individu yang mungkin menyerang atau
menghancurkan nilai-nilai intinya.
b. Manajemen
Puncak
Tindakan manajemen
puncak juga mempunyai dampak besar pada budaya organisasi lewat apa yang mereka
katakan dan bagaimana mereka berperilaku, eksekutif senior menegakkan
norma-norma yang mengalir ke bawah sepanjang organisasi. Misalnya: Robert A.
Keirlin disebut sebagai CEO paling murah di Amerika, dia berpendapat bahwa
perilakunya harus mengirimkan kepada semua karyawannya: tidak ada pemborosan
dalam perusahaan Keirlin melihat dirinya sebagai model peran kesederhanaan dan
karyawan Fasternal belajar untuk mengikuti teladanya.
c. Sosialisasi
Sosialisasi dapat
dikonsepkan sebagai proses yang terdiri atas tiga tahap yaitu; prakedatangan,
keterlibatan dan metamorfosis. Proses tiga tahap ini berdampak pada
produktivitas kerja, komitmen pada tujuan organisasi dan keputusan akhir untuk
tetap bersama organisasi. Terkait dengan dampak sosialisasi yang cukup penting,
ada baiknya kita akan membahas satu persatu untuk mengetahui seberapa dampak
dari tiap-tiap substansi ini mempunyai pengaruh terhadap budaya organisasi.
1)
Tahap
Prakedatangan
Tahap ini mengakui
bahwa tiap individu tiba dengan seperangkat nilai, sikap, dan harapan. Nilai,
sikap, dan harapan ini mencakup kerja yang harus dilakukan maupun organisasi
itu sendiri. Sosialisasi prakedatangan berlangsung tidak sekedar berkaitan
dengan pekerjaan yang spesifik.
2)
Tahap
Keterlibatan
Ketika memasuki sebuah
organisasi anggota baru memasuki tahap keterlibatan dimana individu itu
menghadapi kemungkinan pemisahan antara harapannya mengenai pekerjaan, rekan
sekerja, atasan, dan organisasi secara umum. Keterlibatan terkadang hanaya
memberikan kepastian ulang atas persepsi yang diperoleh sebelumnya.Jika harapan
dan kenyataan berbeda, karyawan baru itu harus menjalani sosialisasi yang
melepaskan nay dari asumsi dia sebelumnya dan mengganti asumsi itu dengan
seperangkat asumsi lain yang dianggap lebih disukai oleh organisasi itu.
3)
Tahap
Metamorfosis
Pada tahap metamorfosis
mengandalkan program sosialisasi yang formal, kolektif, tetap, berurutan dan menekankan keterbukaan,
makin besar kemungkinan bahwa perbedaan yang perspektif pendatang baru itu akan
ditinggalkan dan digantikan oleh perilaku yang terbakukan dan dapat diramalkan.
Dapat dikatakan bahwa proses metamorfosis ada proses sosialisasi saat masuk itu
selesai bila anggota baru itu telah merasa nyaman terhadap organisasi dan
pekerjaanya. Ia telah menginternalkan norma-norma organisasi dan kelompok
kerjanya dan memahami serta menerima baik norma itu. Anggota baru merasakan
diterima oleh rekan kerjanya dan memahami serta menerima baik norma itu. Anggota
baru itu merasakan diterima oleh rekan sekerjanya sebagai individu yang
dipercaya dan dihargai, merasa yakin bahwa ia mempunyai kompetensi sehingga
mampu menyelesaikan pekerjaannyadengan sukses dan memahami sistem, tidak hanya
tugasnya sendiri, tetapi juga aturan, prosedur, dan praktik-praktiknya yang
diperoleh secara informal.
3.
Cara
Mengajarkan Budaya Organisasi
Sebuah
budaya di dalam organisasi diteruskan kepada karyawan dalam sejumlah bentuk,
yang paling ampuh adalah cerita, ritual, lambang- lambang yang bersifat
kebendaan dan bahasa.
a. Cerita
Cerita- cerita
inspiratif yang beredar dalam banyak organisasi. Cerita-cerita ini biasanya
berisi dongeng peristiwa mengenai pendiri organisasi, pelanggaran aturan,
sukses dari miskin ke kaya, pengurangan angkatan kerja, lokasi karyawan, reaksi
terhadap kesalahan masa lalu, dan cara mengatasi masalah organisasi.Cerita-cerita
semacam ini menautkan masa kini ke masa lampau dan memberikan penjelasan dan
pengesahan atas praktik yang terjadi dewasa ini. Karena sebagain besar cerita
ini akan berkembang secara sepontan. Namun beberapa organisasi benar-benar
berusaha mengelola unsur pembelajaran budaya ini.
b. Ritual
Ritual merupakan
deretan kegiatan berulang yang mengungkapkan dan memperkuat nilai- nilai utama
organisasi, sasaran apakah yang paling penting, orang-orang manakah yang
penting dan manakah yang dikorbankan. Contoh salah satu ritual koorporasi yang
dikenal baik adalah lagu perusahaan dipakai sebagai cara untuk memotivasi dan
meyatukan angkatan kerja.
c. Lambang
Kebendaan
Lambang kebendaan dapat
juga dijadikan sebagai cara untuk menanamkan budaya kepada para karyawan
sebagai contoh: Kantor pusat perusahaan kemasan Alcoa tidak kelihatan seperti
kantor pusat yang anda bayangkan. Perusahaan ini menghargai keterbukaan,
kesamaan, kreativitas, dan keluwesan.
d. Bahasa
Banyak organisasi
menggunakan bahasa sebagai cara mengidentifikasikan anggota budaya dan sub- sub
budaya. Dengan memepelajari bahasa ini, anggota membuktikan bahwa penerimaan
mereka akan budaya itu dan, dengan berbuat seperti itu, akan membantu
melestarikanya.
4.
Menciptakan
Budaya Organisasi Yang Etis
Budaya
organisasi yang paling mungkin membentuk standar etis tinggi adalah budaya yang
tinggi dalam mentolerir resiko rendah sampai sedang dalam keagresifan dan
berfokus pada sarana dan juga hasil. Budaya organisasi yang kuat akan
berpengaruh lebih besar terhadap karyawan dibandingkan dengan budaya yang
lemah. Jika budaya kuat dan mendukung standart etis yang tinggi budaya itu
seharusnya memiliki pengaruh yang sangat kuat dan positif terhadap perilaku
karyawan.
Apa
yang dapat dilakukan manajeman untuk menciptakan sebuah budaya etis di dalam
lingkungan organisasi dan dapat berpengaruh terhadap perilaku karyawan. Pertama
adalah jadilah model peran yang kelihatan, karyawan akan melihat perilaku manajeman
puncak sebagai tolak ukur untuk merancang perilaku yang tepat. Kedua
komunikasikanlah harapan etis, ambiguitas etis dapat diminimalisir oleh
penciptaan dan penyebaran kode etik organisasi. Ketiga berikanlah pelatihan
etis, adakanlah seminar, lokakarya, dan program-program pelatihan etis yang
serupa. Keempat berikanlah imbalan secara terang-terangan terhadap tindakan
etis dan berikan hukuman terhadap tindakan yang tidak etis, penilai
kinerja dari menejer harus mencakup evaluasi poin demi poin
tentang apakah memang keputusannya sesuai dengan kode etik organisasi. Kelima
sediakanlah mekanisme yang melindungi, organisasi perlu meyedikan mekanisme
formal sehingga karyawan dapat membahas dilema etis dan melaporkan perilaku
yang tidak etis.
5.
Menciptakan
Budaya Yang Tanggap Terhadap Pelanggan
Kebanyakan
organisasi dewasa ini berupaya sangat keras, mereka berusaha menciptakan budaya
yang tanggap terhadap pelanggan karena mereka mengakui bahwa ini adalah jalur
menuju kesetiaan pelanggan dan kemampuan untuk menghasilkan laba jangka
panjang. Membangun kinerja basis pelanggan yang kuat dan setiadan umumnya
melebihi pesaing mereka dalam pertumbuhan pendapatan dan kinerja keuangan.
Menurut
Robbins (2007: 741) ada beberapa variabel yang secara rutin terdapat dalam
budaya yang tanggap terhadap pelanggan, ada 6 variabel diantaranya: (1) tipe
karyawan itu sendiri, organisasi berorientasi pelanggan yang berhasil,
memperkerjakan karyawan yang terbuka dan ramah, (2) formalisasi yang rendah,
karyawan jasa perlu memiliki kebebasan untuk memenuhi tuntutan layanan
pelanggan senantiasa berubah, (3) perluasan formalisasi, penggunaan
pemberdayaan secara luas (4) ketrampilan mendengarkan yang baik, karyawan dalam
budaya yang tanggap terhadap pelanggan memiliki kemapuan mendengarkan dan
memahami pesan yang disampaikan oleh pelanggan, (5) kejelasan peran, karyawan
jasa bertindak sebagai perentang batas, antara organisasi dan pelanggan, (6)
budaya tanggap terhadap pelanggan, memiliki karyawan yang memperlihatkan
perilaku kewargaan organisasi.
Terkait
dengan apa yang disampaikan oleh Robbins diatas dapat disimpulkan bahwa budaya
tanggap terhadap pelanggan memperkerjakan karyawan yang berorientasi layanan
dengan ketrampilan mendengar yang baik dan keinginan bekerja melebihi batas
uraian jabatannya agar dapat melakukan apa yang perlu untuk meyenangkan
pelanggan.
Berdasarakan
karakteristik yang sudah diidentifikasikan sebelumnya ada beberapa tindakan
yang dapat dilakukan menejemen jika ia ingin
membuat budaya menjadi lebih tanggap terhadap pelanggan tindakan ini
dirancang untuk menciptkan karyawan dengan kompetensi, kemapuan dan keinginan
untuk meyelesaikan masalah pelanggan apabila muncul. Ada beberapa hal yanga
dapat dilakukan oleh seorang manajer terkait dengan tindakan menejerial bagi
organisasi antara lain:
1. Seleksi
Tempat untuk memulai
membangun budaya organisasi tanggap terhadap pelanggan adalah memperkerjakan
orang yang memiliki kepribadian dan sikap yang konsisten terhadap orientasi
yang tinggi, studi menunjukan bahwa, keramahan, kegairahan dan perhatian dalam
diri karyawan jasa secara positif
mempengaruhi persepsi pelanggan tentang mutu layanan, maka seorang manajer
harus mencari kriteria ini dalam diri pelamar selain itu, calon-calon pelamar
harus disaring sehingga rekrutan baru memiliki kesabaran, perhatian terhadap
yang lain, dari ketrampilan mendengar yang terkait dengan karyawan yang
berorientasi pada pelanggan.
2. Pelatihan
dan Sosialisasi
Organisasi yang
berusaha menjadi lebih tanggap terhadap pelanggan tidak selalu harus melakukan
perekrutan semua karyawan baru. Yang lebih umum adalah bahwa manajemen
menghadapai tantangan untuk membuat karyawan yang sekarang ada menjadi lebih
berfokus pada pelanggan. Selain itu karyawan baru yang memiliki sikap ramah
terhadap pelanggan sekalipun mungkin perlu memahami harapan manajemen dengan demikian
semua orang di bidang kontak layanan
baru hendaknya disosialisasikan mengenai sasaran dan nilai organisasi, dalam
hal ini karyawan yang paling fokus pada pelanggan dapat saja kehilangan arah.
3. Rancangan
Struktural
Struktur organisasi
perlu lebih banyak memberikan kendali ke karyawan , ini dapat dicapai dengan
mengurangi kaidah dan aturan. Karyawan itu lebih mampu memuaskan pelanggan bila
mereka memiliki beberapa kendali atas perjumpaan karyawan. Dengan demikian
manajemen perlu memberi kesempatan karyawan menyesuaikan perilaku mereka dengan
kebutuhan dan permintaan pelanggan yang senantiasa berubah.
4. Pemberdayaan
Konsisten dengan
formalitas yang rendah adalah pemberdayaan karywan dengan memberikan
keleluasaan untuk mengambil keputusan dari hari ke hari menyangkut
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan. Itu merupakan komponen
yang perlu pada budaya yang tanggap terhadap pelanggan karena komponen ini
memungkinkan karyawan jasa membuat keputusan di tempat secara cepat sehingga benar-
benar memuaskan pelanggan.
5. Kepemimpinan
Para pemimpin
menyampaikan budaya organisasi melalui apa yang mereka katakan dan apa yang
mereka lakukan. Para pemimpin yang efektif dalam budaya yang tanggap terhadap
pelanggan menyampaikan budaya tersebut malalui penganutan visi yang berfokus
terhadap pelanggan dan menunjukannya lewat perilaku terus menerus bahwa mereka
setia terhadap pelanggan.
6. Evaluasi
Kinerja
Dalam sejumlah
penelitian menunjukan bahwa evaluasi kinerja berdasarkan perilaku yang
konsisten dengan peningkatan layanan pelanggan. Evaluasi berdasarkan perilaku
memberikan imbalan ke karyawan berdasar cara mereka berperilaku dan bertindak
berdasarkan kriteria seperti usaha, komitmen, kerja tim, keramahan, dan
kemampuan meyelesaikan masalah pelanggan. Bukan berdasarkan hasil yang dapat
diukur, yang telah berhasil mereka capai. Selain itu, budaya yang tanggap
terhadap pelanggan yang di dorong oleh penggunan evaluasi mengikutsertakan
masukan dari para pelanggan. Karyawan yang mengetahui hasil penilai kinerja
mereka akan mencakup evaluasi dari pelanggan, mungkin akan membuat mereka lebih
memperhatikan perumusan kebutuhan pelanggan.
7. Sistem
Imbalan
Manajemen menginginkan
agar karyawan memberikan layanan yang baik, maka ia harus memberikan imbalan
berdasarkan layanan yang baik. Ia perlu memberikan pengakuan terus menerus
kepada karyawan yang menunjukan usaha yang luar biasa untuk menyenangkan
pelanggan dan yang sudah dipilih oleh pelanggan karena melakukan sebuah
pekerjaan luar biasa. Seorang manajemen perlu memberikan upah dan promosi yang
sesuai dengan layanan pelanggan yang luar biasa.
6.
Spiritualitas
dan Budaya Organisasi
Spiritualitas
tempat kerja tidak menyangkut praktik religius yang terorganisasi, dalam hal
ini tidak menyangkut Tuhan atau teologi. Spritualitas tempat kerja mengakui
bahwa orang memiliki kehidupan batiniah yang memelihara dan dipelihara oleh
pekerjaan bermakna yang ada dalam konteks masyarakat. Banyak organisasi yang
mempromosikan budaya spiritual mengakui bahwa orang yang memiliki pikiran roh
berusaha menemukan makna dan tujuan hidup dalam kerja mereka dan ingin
berhubungan dengan umat manusia lain ingin menjadi bagian dari masyarakat.
Dalam sepanjang sejarah model manajemen dan perilaku organisasi tidak mempunyai
ruang untuk spiritualitas.Perhatian terhadap batin karyawan tidak berperan
dalam model yang benar-benar rasional. Tetapi adanya kesadaran bahwa emosi
meningkatkan pemahaman tentang perilaku organisasi, kesadaran spiritualitas
dapat membantu untuk lebih memahami perilaku karyawan hal ini berkaitan dengan
karyawan yang selalu memiliki kehidupan batiniah. Apa yang membedakan
organisasi spiritual dan mitra nonspiritual, berikut ini telah didefinisikan
karakteristik budaya yang cenderung tampak jelas dalam organisasi spiritual.
Menurut
Robbins (2007:746)menyatakan, ada 5 karakteristik budaya yang terdapat dalam
sebuah organisasi yang memiliki spiritual yakni: (1) sangat memperhatikan
tujuan, (2) Fokus pada pengembangan individu, (3) kepercayaan dan ketebukaan,
(3) pemberdayaan karyawan, (4) toleransi terhadap ekspresi karyawan.
Terkait
dengan pendapat robbins diatas, dalam organisasi yang memiliki orientasi yang
pertama sangat memperhatikan tujuan
artinya organisasi spiritual membangun budaya mereka berdasarkan tujuan yang
bermanfaat. Walaupun mungkin penting laba bukanlah merupakan nilai utama
organisasi. Karakteristik yang kedua yaitu, fokus pada pengembangan individu, organisasi- organisasi spiritual
mengakui bobot dan nilai orang, mereka tidak hanya memberikan jabatan. Mereka
berusaha menciptakan budaya yang memungkinkan karyawan dapat terus menerus
belajar dan bertumbuh.dengan mengakui pentingnya orang , mereka juga berusaha
memberikan keamanan kerja. Karakteristik berikutnya yaitu, kepercayaan dan keterbukaan, ciri-ciri organisasi spiritual adalah
kepercayaan timbal balik, kejujuran dan keterbukan para manajer tidak takut
mengakui kesalahan dan mereka cenderung sanagt berterus terang dengan karyawan,
pelanggan, dan pemasok. Karakteristik selanjutnya adalah pemberdayaan karyawan, iklim kepercayaan tinggi dalam organisasi
spiritual, bila digabungkan dengan keinginan memajukan pembelajaran dan
pertumbuhan karyawan mengakibatan memberdayakan karyawan sehingga mamapu
mengambil sebagain besar keputusan kerja. Karakteristik terakhir dalam
organisasi spiritual adalah toleransi
terhadap ekspresi karyawan, karakteristik ini yang membedakan organisasi
berbasis spiritual adalah bahwa mereka tidak melumpuhkan emosi karyawan,
memungkinkan orang menjadai diri mereka sendiri mengekspresikan suasana hati
dan perasaan mereka tanpa rasa salah atau takut ditegur.
Berdasarkan
pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi terdiri dari
karakteristik yang relatif stabil. Budaya itu dikembangkan dari tahun ke tahun
dan berakar pada nilai yang kuat diyakini karyawan sehingga mendapatkan
komitmen yang kuat. Selanjutnya, ada sejumlah kekuatan terus bekarja untuk
mempertahankan budaya tertentu. Hal ini
mencakup pernyatan yang ditulis mengenai filosofi dan misi organisasi, desain
fisik dan ruang bangunan cara memimpin
yang dominan , kriteria pemekerja, praktek promosi masa lalau, ritual yang
mempengaruhi serta kriteria evaluasi kinerja masa lalu dan struktur organisasi
formal. Argumen kita jangan dipahami sebagai mengatakan bahwa budaya tidak
dapat diubah tetapi dalam situasi krisis dan mengancam, keberadaan organisasi
krisis yang dapat mengubah organisasi. Budaya dapat diubah dengan keberhasilan
tergantung dari pemimpin dan semua yang berada di dalam organisasi tersebut
termasuk para pelanggan.
H. MENUMBUHKAN NILAI DALAM BUDAYA
ORGANISASI
Dalam
sebuah organisasi membutuhkan kualitas dan integritas dari kedua komponen
tersebut sangat mempengaruhi dalam meraih sebuah kesuksesan serta kualitasnya.
Integritas yang terdapat dalam organisasi bergantung pada solidaritas para
anggotanya. Solidaritas menunjukan adanya hubungan antar individu dengan
kelompok.
Menurut
Durkheim dalam Kurniadin dan Machali (2012 :260) menyatakan bahwa solidaritas
dibagi menjadi dua bagin yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik.
1. Solidaritas
Mekanik
Solidaritas mekanik
memiliki ciri khas yang didasarkan pada tingkat homogenitas tinggi dalam
kepercayaan dan sentimen (perasaan) yang
sama pada organisasi sebagai sistem dalam bekerjasama. Bagi sebuah organisasi
yang hanya mengenal solidaritas mekanik jenis-jenis pekerjaan dilakukan
bersama-sama tidak ada pembagian tugas secara utuh. Setiap individu melakukan
pekerjaan bersama sama tanpa memiliki spesialisasi yang jelas. Keadaan ini
merupakan kelemahan solidaritas mekanik yang berpengaruh terhadap kualitas
hasil ahkir pekerjaan. Jika terjadi kesalahan maka individu tidak ada yang mau
bertanggungjawab karena pekerjaan dilakukan bersama-sama, hal ini dapat
mengakibatkan adanya saling lempar pendapat, saling lempar kesalahan. Individu
yang terlibat dalam pekerjaan satu sama lain tidak lepas dari ikatan,
tanggungjawab pekerjaan dan tidak ada saling ketergantungan.
2. Solidaritas
Organik
Solidaritas organik
yang muncul adanya pembagian kerja yang tegas. Yaitu setiap ndividu dalam
organisai yang terlibat dalam
penyelesaian suatu pekerjaan akan memegang wewenang dan tangungjawab yang
diberikan kepadanya. Ciri khas dari solidaritas organik didasarkan pada saling
ketergantungan yang tinggi. Ketergantungan itu bertambah sebagaimana
bertambahnya spesialisasi pekerjaan dalam pembagian kerja hal ini dapat
meningkatkan kualitas kerja sert hasil akhirnya.
Berikut
ini dapat kita lihat dalam matriks perbedaan organisasi atas dasar solidaritas
|
No
|
Solidaritas
Mekanik
|
Solidaritas
Organik
|
|
1
|
Pembagian
kerja rendah
|
Pembagian
kerja tinggi
|
|
2
|
Kesadaran
kolektif kuat
|
Kesadaran
kolektif lemah
|
|
3
|
Hukum
represif dominan
|
Hukum
restritutif (memulihkan) dominan
|
|
4
|
Individualitas
rendah
|
Individualitas
tinggi
|
|
5
|
Konsensus
terhadap pola-pola normatif penting
|
Konsensus
terhadap nilai-nilai abstrak dan umum penting
|
|
6
|
Keterlibatan
organisasi dan setiap individu didalamnya berperan dalam menghukum pekerja
yang menyimpang
|
Badan-badan
atau kontrol sosial menghukum pekerja yang menyimpang
|
|
7
|
Ketergantungan
dalam pekerjaan rendah
|
Ketergantungan
dalam pekerjaan tinggi
|
|
8
|
Bersifat
agraris pedesaan
|
Bersifat
industri perkotaan
|
Terkait
dengan pernyataan diatas dapat kita lihat bahwa kedua bentuk solidaritas memang terdapat dalam setiap organisasi,
untuk itu bentuk bentuk solidaritas dapat menumbuhkan
nilai dalam budaya organisasi . Sikap solidaritas dapat dijadikan kiat
untuk menumbuhkan nilai budaya sehingga tiap individu dapat meningkatkan integritas
dan kualitas sehingga dapat berpengaruh
kepada produktivitas kerja.
RUJUKAN:
Hoy, K. Wayne., Miskel, G. Cecil. 2005. Educational Administration: Theory,
Research, and Practice. Seventh Edition. New York: McGraw-Hill
Owens, G. Robert. 1995. Organizational Behavior in Education.
Fifth Edition. Allyn and Bacon.
Robbins, P. Stephen. 2006. Perilaku Organisasi. PT Indeks
Soetopo, Hendyat. 2010. Perilaku Organisasi: Teori dan Praktik di
Bidang Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Usman, Husaini. 2013. Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset
Pendidikan. Ed.4. Jakarta: Bumi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar